Thursday , 8 December 2016
Info Terbaru

Cinta Itu Bernama Ardan

“Begitu banyak lelaki yang tidur denganku. Dari berbagai suku bangsa dan warna kulit. Aku sudah terbiasa dengan cinta sesaat seperti ini. Sudah biasa dengan peluh bercampur nista. Apa yang membuatmu berbeda dengan mereka?” tanya Ardan getir. Pipinya sudah basah. Ia terharu mendengar ketulusan Febrian. Ia tersentuh dengan kebaikannya. Tetapi masih adakah cinta untuk orang seperti dirinya? Masih adakah lelaki seperti Febrian di dunia ini yang benar-benar tulus menyayanginya? Badannya kotor. Ia bukan seperti Febrian, berasal dari keluarga baik-baik….

Ketika cinta yang tidak seharusnya hadir tumbuh di dalam hati mereka, haruskah mereka mengingkarinya? Haruskah keduanya mengikuti kodrat mereka sebagai laki-laki, yang tidak seharusnya membiarkan perasaan itu tumbuh dalam hati mereka?

“Kenapa, Rian?” desak Ardan sambil terisak.
“Karena aku kotor? Aku sudah tidak pernah berhubungan dengan siapapun kecuali denganmu.” Ardan sesenggukkan. Bahunya berguncang keras. “Karena aku miskin? Aku akan berusaha bekerja lebih rajin lagi. Atau… karena aku kurang berpendidikan? Aku bisa belajar lebih giat lagi supaya cepat lulus….”

Akankah cinta terlarang yang mereka perjuangkan berakhir dengan bahagia? Ataukah cinta sejenis ini memang sudah dikutuk sejak awal, dan sebaiknya perasaan itu ditepis jauh-jauh… Tunggulah jawabannya dengan membaca novel yang mengharukan ini selengkapnya.

Cinta itu Bernama Ardan…. Cinta yang sudah jauh-jauh hari menjalari relung-relung hatinya, sebelum ia mengerti arti cinta itu sendiri….

Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>